Thursday, 21 June 2018

Tenaga Kesehatan Di Larang Cuti, Wabup Serang Sidak Ke Puskesmas

Wakil Bupati Serang, Pandji Tirtayasa sidak (foto :Agus S) 
AGRESIFnews, Serang - Guna mengantisipasi kejadian yang tidak di inginkan selama hari raya idul fitri 1439 H, Pemkab Serang dengan tegas melarang pegawai yang bertugas di instansi kesehatan mengambil cuti selama libur lebaran, atau hingga H+7.

Hal ini dikemukakan oleh Wakil Bupati Serang, Pandji Tirtayasa saat melakukan Sidak di Puskesmas Ciruas, Kabupaten Serang, Kamis (21/6).

Ia juga menghimbau kepada semua petugas kesehatan supaya menempati pos masing-masing yang sudah dibagi jadwalnya. “Tanggal merah harus siap siaga semua, tidak ada yang boleh libur, nanti setelah H+7,  baru diperkenankan cuti", ujarnya

Lebih lanjut Pandji menegaskan, bahwa hak cuti yang diambil para pegawai kesehatan harus secara bergantian agar tidak mengganggu pelayanan Puskesmas. Untuk memuluskan program tersebut, dirinya sudah memberikan intruksi kepada Dinkes Kabupaten Serang untuk tetap membuka pelayanan walaupun hari libur selama lebaran.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek juga memastikan, pelayanan kesehatan untuk masyarakat tetap berjalan pada hari cuti bersama dan libur Lebaran 2018.

"Untuk tetap menjaga kesehatan masyarakat  selama lebaran, kami tidak cuti," kata Nila dalam acara penjelasan tindak lanjut SKB 3 Menteri tentang Cuti Bersama Idul Fitri 1439 Hijriah di kantor Kemenko PMK, Jakarta Pusat, Senin (7/5/2018).

Ia memastikan, sektor pelayanan kesehatan seperti puskesmas akan tetap buka guna membantu masyarakat selama hari raya idul fitri.

Sekadar diketahui, pemerintah memutuskan cuti bersama Lebaran 2018 sebanyak 7 hari, sebagaimana Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri yang diteken pada 18 April 2018. Dengan demikian, total libur lebaran menjadi 10 hari, pada 11-20 Juni 2018. (Agus S)
Share:

Wednesday, 20 June 2018

Tangisan Kelurga korban KM Sinar Bangun

AGRESIFnews, Samosir - Pengharapan dan Isak tangis keluarga korban KM Sinar Bangun masih memenuhi tenda penampungan di Pelabuhan Samosir, Sumatera Utara, Rabu (20/6) pagi. Mereka berharap anggota keluarganya yang hilang di Danau Toba masih bisa ditemukan.
Pencarian penumpang yang masih hilang memasuki hari ketiga. Tim SAR, BPBD, Polri hingga TNI melanjutkan pencariannya dengan menyisir seluruh perairan Danau Toba.
“Di titik kejadian dan sekitarnya, dan disisir juga semua (perairan Danau Toba),” ujar Kepala BPBD Sumatera Utara Mahler Tamba kepada agresifnews.com, Rabu (20/6).
Kondisi cuaca di Danau Toba pada Selasa pagi juga terpantau cerah, sehingga tim gabungan bisa kembali melanjutkan pencariannya. Mahler mengungkapkan, menurut data BPBD Samosir setidaknya tercatat 138 penumpang yang masih belum ditemukan. Ia menegaskan pencarian terus dilakukan semaksimal mungkin.
Sementara ini dari data kita 138 orang hilang. Yang ditemukan 19 orang dengan rincian 1 orang yang meninggal,” ungkap Mahler.
Tidak adanya manifes penumpang kapal menyebabkan data jumlah penumpang valid belum dapat ditentukan. Namun, Mahler menyebut jumlah korban hilang masih dapat bertambah lagi.(R.Tarigan)

Share:

Saturday, 16 June 2018

Polri mencatat angka kecelakaan mudik menurun

AGRESIFnews,  Jakarta - Jumlah kecelakaan yang terjadi dalam operasi ketupat 2018 dari H-8 hingga hari H Lebaran atau mulai Rabu (7/6/2018) hingga Jumat (15/6/2018) sebanyak 1.154 kasus atau turun 17 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2017 kemarin.
"Dari H-8 hingga hari H jumlah kecelakaan lalu lintas ada 1.154 kejadian. Jumlah ini turun 17 persen dibandingkan dengan Operasi Ramadniya tahun sebelumnya yang mencapai 1.623 kejadian," ujar Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Setyo Wasisto, Sabtu (16/6/2018).
Penurunan jumlah kecelakaan, lanjut Setya, diikuti pula dengan penurunan dampak kecelakaan dalam Operasi Ketupat 2018 hingga hari H Lebaran dibanding data korban meninggal dunia dalam Operasi Ramadniya 2017 hingga hari H Lebaran.
Setyo merinci jumlah korban meninggal dunia pada Operasi Ketupat 2018 hingga hari H sebanyak 242 orang atau turun 44 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2017 yakni 616 orang.
Jenderal bintang dua ini menjelaskan kecelakaan yang terjadi banyak didominasi oleh sepeda motor sehingga perlu diwajibkan pengendara sepeda motor untuk beristirahat di pos-pos cek poin.
Lebih lanjut soal masih padatnya arus lalu lintas di Tol Cikampek, menurut Setyo itu karena masih ada masyarakat yang mudik.
"Hal ini disebabkan masih banyaknya masyarakat yang mudik pada hari H Lebaran," tambahnya.
Diketahui dalam Operasi Ketupat 2018 yang berlangsung 18 hari mulai 7 Juni-24 juni 2018. Ada sebanyak 177 ribu personel gabungan yang disiagakan.
Selain menyiagakan anggota, Polri juga menyiapkan 3.097 pos pengamanan di seluruh Indonesia selama pelaksanaan Operasi Ketupat 2018.(rst) 
Share:

Sunday, 29 April 2018

Polisi bentuk tim khusus untuk menyelidiki kasus di CFD


AGRESIFnews - Setelah viralnya video aksi tidak terpuji di CFD tadi pagi dimana yang paling menjadi sorotan adalah aksi pria-pria itu terhadap seorang ibu yang berjalan bersama anak laki-lakinya.
Meski wanita dan anaknya itu mendapat pengawalan dari sejumlah pria yang mengenakan kaos #2019GantiPresiden, tapi banyak dari mereka yang meneriakinya. Bahkan aksi intimidasi itu sampai membuat sang anak yang bernama Zaky menangis. Tapi si ibu menguatkan anaknya itu.
"Kita enggak takut Zaky! Kita benar, kita enggak akan pernah takut. Masya Allah kalian ini. Masya Allah, ibu-ibu kalian lakukan seperti ini, Muslim apa kalian," kata wanita berkaca mata itu.
Polisi Bentuk Tim Khusus
Polres Jakarta Pusat telah mendengar kabar intimidasi ini. Penyidik bahkan telah mempelajari sejumlah rekaman video aksi intimidasi yang dilakukan pria-pria yang mengenakan kaus #2019GantiPresiden itu.
Kapolres Metro Jakarta Pusat, Komisaris Besar Polisi Roma Hutujulu, yang dihubungi AGRESIFnews  mengatakan, telah membentuk tim khusus guna menyelidiki kejadian intimidasi yang dilakukan massa dengan kaus #2019GantiPresiden kepada massa #DiaSibukKerja di acara Car Free Day Sudriman-Thamrin, Minggu 29 April 2018 pagi.
"Kita bentuk tim untuk lakukan penyelidikan," kata Roma saat dikonfirmasi AGRESIFnews, Minggu 29 April 2018.
Kapolres menyampaikan, massa yang mengenakan kaus #DiaSibukKerja melakukan aksi jalan sehat dari titik kumpul mereka di kawasan Patung Kuda Arjuna Wiwaha atau patung kuda depan gedung Indosat menuju ke Bundaran Hotel Indonesia (HI).
Sebenarnya, polisi telah mengimbau massa dengan kaus #DiaSibukKerja untuk tidak melintas di wilayah Bundaran HI lantaran ada massa dengan kaus #2019GantiPresiden yang juga melakukan aksi jalan sehat yang dipelopori Gerakan Pemuda Jakarta (GPJ).
Imbauan itu disampaikan agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Tapi mereka tetap ingin aksinya melintasi kawasan Bundaran HI. Mereka pun lantas memulai kegiatan jalan sehat dengan dikawal polisi bersepeda. Namun, diduga ada beberapa dari mereka yang tertinggal. Mereka yang tertinggal itu mendapat intimidasi.
"Tapi mereka ada yang terpisah, tidak ada koordinator lapangannya," katanya.
Dalam kesempatan itu, Roma menjelaskan kalau pihaknya telah menurunkan dua kompi personel yang mana dari masing-masing kompi menjaga aksi keduanya. Hingga kini pihaknya masih melakukan pendalaman kejadian itu untuk melihat adakah tindak pidana. Namun, sejauh ini memang belum ada yang membuat laporan di kepolisian. (lia) 
Share:

Car free day diwarnai dengan aksi tagar #2019GantiPresiden

Foto diambil pada saat di kegiatan CFD

AGRESIFnews - Kegiatan car free day (CFD) di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) pada Minggu (29/4/2018) tampak berbeda.
Sebab, terdapat sejumlah warga berjalan kaki dan bersepeda di CFD sembari memakai kaus dan topi dengan tagar #2019GantiPresiden.
Pantauan Kompas.com, mereka tampak berkumpul secara terpisah di sejumlah titik sekitar Bundaran HI.

Teriakan "Ganti Presiden" juga terdengar di sejumlah titik kawasan Bundaran HI.
Salah seorang warga bernama yuli mengaku datang bersama keluarga besarnya sebagai aksi spontanitas,  Menurut dia, kegiatan ini tidak direncanakan sama sekali.

"Kebetulan ada teman jualan topi sama kaus di CFD, ya udah saya beli. Kenapa enggak? Saya bantu sekalian kan, karena ini lagi kekinian," ujar yuli sembari tertawa di kawasan Bundaran HI, Jakarta.

Di tempat lainnya juga anto menyatakan bahwa dia hadir di kegiatan CFD ini karena diajak temannya,  sambil olahraga sehat dan diberikan kaos ini biar samaan katanya,  anto tidak mengetahui bila ternyata aksi ini banyak yang datang menggunakan kaos seperti dirinya,  apakah bawa dari rumah atau beli di CFD ini saya kurang tau,  yang pasti ramai (lia) 
Share:

Friday, 27 April 2018

Budi waseso resmi jadi direktur utama Buloq

AGRESIFnews - komisaris Jenderal (purn) Budi Waseso, Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) resmi menjadi Direktur Utama Perum Bulog.
Ditemui pada saat keluar dari lift Gedung Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) usai menerima surat pengangkatan,  Budi Waseso yang akrab disapa Buwas itu mengaku baru tahu kalau ia diangkat menjadi Dirut Bulog saat ia tiba di Kementerian BUMN, tidak ada pemberitahuan sebelumnya dari pihak BUMN.
"Saya baru tau tadi nih datang ke sini terima SK ini," ujar Buwas dengan santai. Jumat (27 /4)

BACA JUGA : Satgas Pangan Polri senang bila benar buwas mimpin buloq
Pada masa awal kepemimpinannya, Buwas mengaku akan melakukan pendalaman terlebih dulu mengenai tugas poko dari Bulog.
"Ya saya perlu mendalami itu semua, mempelajari, saya harus tau juga tugas pokok dari Bulog," tutur Buwas.
Namun Buwas memastikan ia telah mendapatkan tugas menjaga stabilitas beras dan kebutuhan pangan lainnya agar tetap aman selama bulan Ramadhan hingga Hari Raya Lebaran.
"Tugas-tugasnya tentunya masalah pangan khususnya beras, nah yang paling penting adalah menjelang puasa dan lebaran. Sehingga dalam menyambut hari besar puasa ini dan lebaran itu semua ketersediaan terjamin," kata Buwas.
Diangkatnya Budi Waseso menjadi Dirut Bulog berdasarkan SK Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Nomor: SK-115/MBU/04/2018 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-Anggota Direksi Perusahaam Umum (Perum) BULOG.(rst) 
Share:

Wednesday, 10 January 2018

Remaja Indonesia rawan sex bebas

AGRESIFnews - Tingkat sadisme dan seks bebas di kalangan remaja Indonesia makin memprihatinkan. Hal ini ditandai makin tingginya angka pembuangan bayi di jalanan di sepanjang Januari 2018. Setidaknya, ada 54 bayi dibuang di jalanan pada Januari 2018. Pelaku umumnya wanita muda berusia antara 15 hingga 21 tahun.

“Angka ini mengalami kenaikan dua kali lipat (100 persen lebih) jika dibandingkan dalam periode yang sama pada Januari 2017, yang hanya ada 26 kasus pembuangan bayi. Di 2017 angka pembuangan bayi di Indonesia tergolong tinggi dalam sejarah, yakni ada 179 bayi yang di buang di jalanan, 79 tewas, 10 masih bentuk janin dan 89 berhasil diselamatkan,“ujar Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, Rabu (31/1/2018).

Menurut Neta, sepertinya di 2018 ini trennya akan lebih meningkat lagi karena di Januari saja sudah naik 100 persen.
Sebagian besar orang tua yang melakukan pembuangan bayinya itu,ungkap dia, lebih memilih menaruh jabang bayinya di jalanan.

Dari 54 bayi yang dibuang di sepanjang Januari 2018, sebanyak 27 bayi bisa diselamatkan. Kondisi bayi dalam keadaan hidup. Hal ini dikarenakan warga dengan cepat membantu bayi yang ditemukannnya untuk dibawa ke puskesmas dan dilaporkan ke polisi. Sementara sebanyak 27 bayi meninggal dunia saat dibuang oleh orang tuanya.

“Jawa Timur menempati posisi tertinggi dalam kasus pembuangan bayi di Januari 2018, dengan 15 kali kejadian. Di bulan yang sama tahun 2017 lalu, Jatim juga menempati peringkat pertama dengan 9 kasus,”ucap Neta.


Sidoarjo, kata dia, sebagai kabupaten terbanyak kasus pembuangan bayi di Januari 2018, yakni ada tiga kasus pembuangan bayi, disusul Malang yang ada dua kasus. Setelah itu Surabaya, Mojokerto, Nganjuk, Jombang, Madiun, Ponorogo, Lamongan, dan Bangkalan masing-masing satu kasus.

Sementara hingga akhir Januari, Jakarta dan Jateng, menempati urutan kedua paling banyak terjadinya pembuangan bayi. Yakni masing-masing ada enam kasus bayi dibuang.

Jabar, ungkap Neta, di urutan ketiga, ada lima bayi dibuang. Kepri dan Sulsel di urutan keempat, ada tiga bayi dibuang di jalanan.

Daerah kelima rawan pembuangan bayi adalah Jogja, Sumsel, Sumut, Sumbar dan Aceh, masing masing dua kasus pembuangan bayi.

Sedangkan peringkat enam dari jumlah bayi yang dibuang, menurut Neta ada di Banten, NTB, NTT, Jateng, Sultra dan Bali, masing-masing ada satu kejadian.

“Dalam kasus pembuangan bayi ini, orang tuanya yang rata rata masih berumur muda itu cenderung mengambil gampangnya dan mencari jalan pintas, yakni dengan cara membuang bayinya ke jalanan, dengan kantong kresek maupun dus mi instan. Sehingga bayi yang dibuang di jalanan di sepanjang Januari menempati posisi terbanyak, dengan 12 kasus,” ucap dia.

Urutan kedua tempat pavorit membuang bayi, menurut Neta, adalah sungai atau kali atau selokan atau parit, ada 11 peristiwa dan sebagian ditemukan mengapung. Rumah warga baik itu di halaman depan atau belakangnya, maupun diteras juga jadi tempat pembuangan bayi hasil hubungan gelap, yakni ada tujuh kejadian.

Namun ada juga para orang tua yang tidak bertanggung jawab itu membuang jabang bayi ke tempat sampah atau bak sampah. Jumlahnya sebanyak 6 kejadian, Kamar mandi atau kloset dan emperan took/warung/kios juga dijadikan tempat pembuangan bayi, ada sebanyak 4 kejadian.

“Mushola atau masjid menempati urutan ke-enam sebagai tempat pavorit pembuangan bayi, dengan 3 kejadian,”Neta menambahkan.

Di urutan ke delapan, sawah sebagai tempat pembuangan bayi, ada 2 kejadian, Di rurutan terakhir, membuang bayinya di hutan, kebun, bak mobil, toilet pesawat, dan ada juga yang meracuni dan mengubur bayinya hidup hidup.

“Makin menggilanya aksi pembuangan bayi hasil hubungan gelap dan seks bebas ini perlu perhatian semua pihak. Pemerintah, para pendidik, tokoh tokoh agama, tokoh masyarakat dan para orang tua perlu mencermati fenomena seks bebas yang telah melahirkan sikap nekat di sebagian generasi muda ini, sehingga aksi pembuangan bayi yang melonjak 100 persen di Januari 2018 bisa diantisipasi agar tidak lebih meluas lagi,“pungkas Neta.(rot/rst)
Share:

Tuesday, 14 April 2015

Gania Alianda: Aku Tipe Cewek Agresif

AGRESIFnews – Si cantik Gania Alianda mengaku sedang jomblo saat ini. Hubungannya dengan sang kekasih baru saja kandas. Bicara soal hubungan asmara, pemilik lini fashion bernama ‘GANS’ ini menuturkan dirinya bukanlah tipe cewek yang senang dikejar.
Gania mengaku ia tipikal cewek agresif yang tak segan mengejar pria yang ia taksir.
“Gue jangan dikejar, kalau dikejar pasti lari,” ujarnya terang-terangan.
Cowok yang bikin penasaran membuat Gania tertantang.
“Kalau cewek yang ngejar emang kenapa?,” tutur pemilik akun twitter @ganialianda ini.
Dalam hubungan, Gania mengaku dirinya bukan tipe perempuan romantis. Hal yang ia cari dari seorang pria cukup simple. Apa saja?
“Dia harus baik dan suka musik. Nggak mesti anak band yang penting suka musik,” tuntasnya
Share:

Thursday, 1 May 2014

Marshanda : sudah satu bulan pisah rumah

AGRESIFnews, Jakarta -- Maraknya kasus perceraian dikalangan para artis, hal ini tidak terlepas juga dengan Pasangan Marshanda dan Ben Kasyafani,  diam-diam tengah dalam proses perceraian. Chacha, sapaan akrab Marshanda telah menggugat cerai Ben ke Pengadilan Agama Jakarta Pusat.

Saat Agresifnews menemui artis cantik tersebut dikediamannya daerah Menteng Jakarta Pusat, Kamis (1/5) Chaca mengungkapkan bahwa dirinya dan Ben sudah pisah ranjang selama satu bulan ini.

"Jadi memang sudah satu bulan.... (terdiam) Hampir kurang lebih satu bulan terakhir kita memang sudah pisah rumah. Aku di sini dan Ben di rumah orangtuanya," ungkap Chacha yang telah memiliki satu orang anak dari Ben.

Kabar ini cukup mengejutkan mengingat rumah tangga Chacha dan Ben termasuk pernikahan selebriti yang adem-ayem. Apalagi pada wawancara sebelumnya Chacha sempat mengaku sempat ingin menambah momongan dari Ben.

Chacha menikah dengan Ben di usia cukup muda, yakni 21 tahun. Dari pernikahannya itu, Chacha dan Ben dikarunai seorang putri bernama Sienna Ameerah Kasyafani. (rst)
Share:

Monday, 21 April 2014

Angga Tidak Bodoh

AGRESIFnews,Oleh: Gusti Rahayu
Pertama kali menginjakkan kaki di SDN 2 Sendoyan, Sejangkung, Sambas, Kalimantan Barat, saat itu siswa sedang mengikuti ulangan tengah-semester. Sejenak kuperhatikan sekeliling kelas. Siswa tampak serius menjawab pertanyaan di lembar soal.

Aku beranjak dari kursi dan berjalan menghampiri setiap siswa. Saat aku lewat di depan siswa yang sibuk berpikir, sebagian mereka ada yang langsung menutupi lembar jawabannya. Saat aku berada di barisan belakang, tampak seorang anak hanya diam tanpa mengerjakan apa pun. 

“Kamu sakit, Nak?”

Anak itu hanya menggeleng. Aku merasa heran. Aku lalu berlalu sambil sesekali memerhatikannya. 

Lalu kudatangi lagi mejanya. “Nama kamu siapa?”

“Angga, Bu,” jawabnya. 

Setelah setengah jam berlalu, aku pun kembali mendatangi mejanya, kertasnya masih juga kosong. 

Salah seorang guru tiba-tiba menghampiriku, sambil berbisik, “Bu, Angga itu daan bisse bace.” 

Logat Melayu sang guru wali kelas sontak membuatku terkaget. Ditambah lagi sorakan teman-temannya yang menambah kesedihan Angga. Entah mengapa aku seketika merasa ikut bersedih.

Aku pun berinisiatif untuk membacakan soal satu per satu, barulah Angga bisa menjawab soal pilihan ganda. Tetapi, ketika menjawab soal isian, tulisan yang ditulis di lembar jawaban tidak jelas. Entahlah apa yang dituliskannya. Aku pun semakin tidak enak hati melihat wajahnya yang tampak sedih. 

Setelah ulangan berakhir, aku kembali mendatangi mejanya. “Angga, mau enggak nanti pas pulang sekolah Ibu ajarin membaca?”

Ia pun mengangguk. 

Angga, begitulah siswa itu disapa. Siswa kelas 2 pindahan dari sekolah daerah Makassar karena mengikuti orangtuanya yang kembali ke kampung halaman. Sesuai janjiku, sepulang sekolah aku perlahan mengajari Angga. 

Berawal dari pengenalan huruf, membedakan antara huruf-huruf yang satu dengan yang lain. Hatiku semakin miris saat ia tidak bisa membedakan huruf V dan W. Apabila ada penggabungan huruf konsonan dan vokal, ia akan terbata-bata. Ketika diulang lagi, ia lupa, seakan-akan tidak pernah diajarkan sebelumnya. 

Dalam usaha membedakan huruf V dan W, aku menggunakan jari tangan seperti tanda “peace” untuk huruf V dan tiga buah jari tangan untuk huruf W. Metode ini ternyata lumayan ampuh buat Angga untuk membedakan huruf tersebut. Aku pun menyuruh Angga mengikuti gerakan yang kulakukan. 

Setelah beberapa menit berlatih, kami pun tertawa bersama sembari mengingat metode yang kuajarkan. Ternyata metode ini sangat ampuh dilakukan untuk membedakan huruf tersebut. 

Besoknya salah satu guru bertanya tentang cara-cara yang kulakukan untuk mengajar Angga. “Bu, ngape sepulang sekolah daan langsung balik?” 

Aku pun menjawab, “Ngajarin Angga, Bu.” 

Tiba-tiba seorang guru yang lain menceletuk, “Bu, daan bisse nak ngajarek biak tok e, sakit ngajarek die, udah babal.” 

Aku tersontak kaget mendengar kalimat terakhir dari salah satu guru itu. Sangat tidak enak didengar, kasar, pelabelan, dan amat tidak percaya akan kemampuan sang anak. Diam-diam aku semakin bertekad membalikkan ucapan itu. 

“Aku harus bisa membuktikan bahwa Angga bisa mengenal huruf, Angga bisa membedakan huruf dan Angga tidak sebodoh yang dilabelkan guru-guru di sini,” ucapku membatin.

Tekadku semakin membaja untuk menjadikan Angga bisa membaca. “Kamu tidak boleh lagi diolok-olok lagi oleh teman-teman. Ibu janji, Angga. Ibu tidak akan pernah lelah menjadikan dirimu bisa.”

Setelah sekian bulan metode kreasiku, Angga perlahan berubah menjadi anak periang dan aktif. Ia bahkan mulai memperlihatkan prestasinya. Perlahan-lahan ia mulai bisa membedakan huruf-huruf tanpa salah lagi. Setiap aku mengangkat tanda “peace”, ia langsung berkata dengan penuh semangat, “V, Bu!” Apabila saya angkat tiga jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis dalam waktu bersamaan, langsung Angga menjawab, “Itu W, Bu!” Lalu kami tertawa bersama.

Seiring waktu, Angga sering membawa buku cerita ke kantor. Ia lakukan itu hanya untuk memperlihatkan kemampuan membacanya padaku.  “Ibu bangga padamu, Angga.” 

Sesungging senyum menyertai kedatangan Angga. Tergambar jelas bagaimana hari-hari sebelumnya ia dicemooh, bahkan oleh beberapa gurunya. Sungguh betapa tidak mengenakkan perasaan anak yang dicap bodoh oleh lingkungannya. Betapa sering kata-kata yang tidak mengenakkan terdengar di telinga. “Dasar anak bodoh, bebal, masak itu saja enggak bisa?”

Masih banyak lagi kata-kata yang terlontar dari mulut orang dewasa bahkan guru kepada anak-anak seperti Angga. Yang menyedihkan, orangtua pun tidak sedikit menganggap anaknya demikian. Mereka tidak tahu bahwa setiap anak itu spesial, dan setiap anak memiliki kecerdasan masing-masing, termasuk juga dalam cara pembelajarannya.

Gusti Rahayu
Penulis adalah guru di Sekolah Guru Indonesia-Dompet Dhuafa
diterbitkan oleh republika

Share: