AGRESIFnews, JAKARTA ---- Tanpa disengaja Joko Widodo calon Presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) bertemu dengan mantan wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla (JK), di bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur.
apakah ini dikatakan memang sudah berjodoh, dimana dalam pertemuan yang tidak disengaja tersebut kedua tokoh itu sama-sama mengenakan kemeja warna putih,
"ya kebetulan ketemu dan kebetulan juga sama-sama memakai kemeja putih" ujar Jusuf Kalla sambil tertawa"
Direktur Political Institute PolcoMM, Heri Budianto mengutarakan bahwa pertemuan bakal calon presiden PDIP Joko Widodo (Jokowi) dengan mantan wakil presiden Muhammad Jusuf Kalla (JK) di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu menyiratkan duet dua orang ini semakin menguat jelang pemilihan presiden 9 Juli nanti.
"Ini pesan politik dapat dimaknai bahwa keduanya akan berpasangan dalam pilpres mendatang" ujar Heri Budianto melalui pesan singkatnya kepada AGRESIFnews, Jakarta, Sabtu (4/5).
Heri menambahkan, itu tentu bukan tanpa alasan. Sebab bila dicermati dari realitas politik selama dua hari ini, di mana Jokowi menyambangi markas Partai NasDem dan kemudian sinyal yang diberikan petinggi PDIP dan NasDem bahwa calon wakil presiden bagi Jokowi sudah ada satu nama, itu kuat sekali mengarah pada sosok JK.
Apalagi diperkuat oleh bergabungnya PKB dalam koalisi PDIP, kata Heri semakin menguatkan posisi JK sebagai cawapres. Sebab PKB termasuk partai yang mencalonkan JK sebagai capres.
"Saya kira ketika PKB merapat ke PDIP itu dapat juga dibaca bahwa duet ini semakin kuat," kata dosen Komunikasi Politik Universitas Mercu Buana Jakarta ini.
Kendati ada nama mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD yang diajukan PKB, tetapi pada akhirnya PKB akan realistis menerima jika calon yang diusungnya akan ditolak PDIP, karena yang akan menentukan cawapres Jokowi adalah Ketua Umum PDIP Megawati.
Selain dari itu, berdasarkan survei akseptabilitas yang dilakukan PolcoMM Institute 3 April lalu, memang publik menilai JK paling pantas berpasangan dengan Jokowi. Karena keduanya akan saling mengisi di pemerintahan.
JK diharapkan akan menjadi jembatan pemerintah dengan Parlemen dan menjaga stabilitas pemerintahan nantinya.
Jika duet ini benar-benar terwujud, dan memenangi pilpres maka menariknya adalah Golkar juga akan ada dalam koalisi ini. Diketahui bahwa JK memiliki basis dukungan kuat di akar rumput di Golkar khususnya di wilayah timur.
Kemudian JK juga memiliki pengaruh di beberapa tokoh Golkar yang saat ini ada di struktural atau kepengurusan DPP Golkar, khususnya tokoh-tokoh muda.
"Dalam pilpres pun Golkar akan terpecah dengan majunya JK dalam kontestasi politik, jika Golkar tetap mengajukan Aburizal Bakrie sebagai capres," tandasnya.
"Ini pesan politik dapat dimaknai bahwa keduanya akan berpasangan dalam pilpres mendatang" ujar Heri Budianto melalui pesan singkatnya kepada AGRESIFnews, Jakarta, Sabtu (4/5).
Heri menambahkan, itu tentu bukan tanpa alasan. Sebab bila dicermati dari realitas politik selama dua hari ini, di mana Jokowi menyambangi markas Partai NasDem dan kemudian sinyal yang diberikan petinggi PDIP dan NasDem bahwa calon wakil presiden bagi Jokowi sudah ada satu nama, itu kuat sekali mengarah pada sosok JK.
Apalagi diperkuat oleh bergabungnya PKB dalam koalisi PDIP, kata Heri semakin menguatkan posisi JK sebagai cawapres. Sebab PKB termasuk partai yang mencalonkan JK sebagai capres.
"Saya kira ketika PKB merapat ke PDIP itu dapat juga dibaca bahwa duet ini semakin kuat," kata dosen Komunikasi Politik Universitas Mercu Buana Jakarta ini.
Kendati ada nama mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD yang diajukan PKB, tetapi pada akhirnya PKB akan realistis menerima jika calon yang diusungnya akan ditolak PDIP, karena yang akan menentukan cawapres Jokowi adalah Ketua Umum PDIP Megawati.
Selain dari itu, berdasarkan survei akseptabilitas yang dilakukan PolcoMM Institute 3 April lalu, memang publik menilai JK paling pantas berpasangan dengan Jokowi. Karena keduanya akan saling mengisi di pemerintahan.
JK diharapkan akan menjadi jembatan pemerintah dengan Parlemen dan menjaga stabilitas pemerintahan nantinya.
Jika duet ini benar-benar terwujud, dan memenangi pilpres maka menariknya adalah Golkar juga akan ada dalam koalisi ini. Diketahui bahwa JK memiliki basis dukungan kuat di akar rumput di Golkar khususnya di wilayah timur.
Kemudian JK juga memiliki pengaruh di beberapa tokoh Golkar yang saat ini ada di struktural atau kepengurusan DPP Golkar, khususnya tokoh-tokoh muda.
"Dalam pilpres pun Golkar akan terpecah dengan majunya JK dalam kontestasi politik, jika Golkar tetap mengajukan Aburizal Bakrie sebagai capres," tandasnya.
[HR]
Baca Juga








0 komentar:
Post a Comment